Home / Pengembangan Diri / 5 Ciri Membuktikan Anda Bersahabat dengan Teman Palsu
teman palsu

5 Ciri Membuktikan Anda Bersahabat dengan Teman Palsu

Apakah Anda bersahabat dengan teman palsu? Hal ini tentu sangat tidak baik. Tidak baik untuk kesehatan fisik maupun mental Anda. Karena teman palsu itu ibarat racun sehat, terlihat menyehatkan dari luar namun sejatinya pelan-pelan menghancurkan.

Hmm … dari mana ya kata-kata teman palsu ditemukan? Sepertinya kata tersebut sudah ada sejak dulu kala. Yang mana kita dan dia berteman hanya sebatas keuntungan bagi dia saja. Dia hanya ingin berteman di kala senang saja, ketika kesuksesan mendekati kita. Namun, di kala kita kesusahan, dia menghilang begitu saja.

Bersahabat dengan orang demikian memang tidak baik. Iya sih, ada beberapa dari kita menyadarinya. Namun, orang yang hanya berteman palsu itu begitu cerdik. Di saat kita susah, dia akan mudah menghilang. Namun, di saat kita senang, dia akan datang dengan senyuman yang terkesan tulus, namun sejatinya itu bukan tulus. Dia datang seakan membawa parfum namun sejatinya itu adalah besi berkarat.

Ciri-ciri Teman Palsu

Tanpa mempersingkat kata, berikut 5 ciri membuktikan Anda bersahabat dengan teman palsu.

1. Ada di saat senang saja

Ini sih terlihat banget, namun kadang kita tidak menyadarinya. Orang-orang yang hanya ada di saat senang saja, seperti ular yang ingin memberikan madu gitu loh. Datang di saat senang, seolah-olah memberikan madu. Menunjukkan kalau dia adalah sahabat terbaik kita. Selalu ada waktu untuk kita. Namun, di kala kita susah, menghilang begitu saja. Seperti kita tidak pernah berteman. Namun, di saat kita senang, dia muncul begitu saja sambil membawa madu.

Sialnya lagi, teman yang seperti ini banyak banget. Bisa tuh kita rasakan. Ketika lagi senang, misal kita mendapat hadiah 1 miliar, ada saja orang baru yang mendekat. Dia sangat ramah pula, dan juga selalu mengajak ke tempat-tempat yang menyenangkan, dan kadang itu menggunakan uang kita.

Namun, di saat hadiah tersebut hilang. Semua yang katanya teman itu tiba-tiba menghilang. Tidak dapat dihubungi pula tuh. Seakan-akan kita tidak pernah berteman dengannya dan memang, sebenarnya kita tidak berteman. Kita dan dia hanya berteman lewat hadiah 1 miliar saja. Setelah itu, tidak ada kata teman, apalagi sahabat.

Bahkan ada tuh teman palsu quotes, “Mereka hanya datang di saat senang. Ketika saya susah semuanya menghilang. Seolah-olah kita tidak pernah berkenalan.” Banyak banget yang merasakan demikian. Jadi, untuk menguji dia benaran sahabat atau tidak, lihat saja di saat Anda sakit atau susah. Tapi, jangan lupa lupakan teman yang selalu ada di saat susah.

2. Semuanya topeng

moodbooster

Ketika dia tersenyum, memang senyum tulus sepertinya. Namun, apakah benar senyum itu adalah senyum tulus? Apakah dia akan senang dengan kesuksesan yang kita peroleh? Ataukah dia hanya tersenyum sambil berusaha menjatuhkan kita? Dia berkata “selamat” namun dalam hatinya “tunggu saja pembalasanku”, sangat berbeda dengan apa yang di mulut dengan di hati?

Nah, itu dia salah satu ciri-ciri sahabat yang sejatinya bukan sahabat. Tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Semua yang dia tunjukkan hanyalah topeng semata. Dia tidak membiarkan orang-orang untuk mengetahui hati dia yang sebenarnya. Ya sih, kalau orang lain tahu akan hati dia yang sebenarnya, tentu orang lain akan hati-hati dengan dia.

Terkadang, ketika lagi kesusahan, ketika sedang sakit misalnya, dia datang dengan wajah yang sangat sedih. Seolah-olah dia satu-satunya orang yang merasa kehilangan. Selain itu, dia datang dengan membawa hadiah yang mampu meluluhkan hati.

Kadang kita bingung memperlihatkan sifat dia. Apakah dia benar bersikap seperti ini atau tidak. Karen adi lain kesempatan, dia bersikap seperti ini, tapi di lain kesempatan dia bersikap seperti. Wajar sikap dia berbeda-beda, karena yang ditunjukkan hanyalah topeng, bukan diri sendiri.

3. Pembohong

Dia berkata kalau dia sedang sakit, namun aslinya dia tidak sakit. Malah sedang bersenang-senang dengan orang lain. Dia berkata kalau dia itu sedih, namun aslinya dia senang banget. Dia berkata kalau dia akan membantu, namun aslinya dia membantu hanya karena ingin sesuatu dari kita.

Singkatnya, dia adalah pembohong ulung. Kata-katanya begitu menggoda, seakan kita terkadang merasa kalau dia tidak berbohong dan memang banyak keanehan dengan apa yang dia katakan. Rasanya, hati kita berkata kalau dia berbohong.

Ketika teman tersebut ketahuan berbohong, dia akan marah-marah. Kadang dia berkata kalau kita ini bukan temannya. Seolah-olah dia ingin menutupi kebohongan dirinya dengan marah-marah. Ada juga dia langsung pergi meninggalkan kita, seolah kebohongan dirinya yang sudah ketahuan tidak usah dibahas.

Berbohong memang normal terjadi di kehidupan kita. Namun, berbohong yang terus menerus sehingga dicap sebagai pembohong, berarti ada yang dia sembunyikan. Ada sesuatu yang tidak ingin diketahui orang lain. Itu bisa menyebabkan penyakit psikologis (American Journal of Psychiatry). Jadi, hati-hati dengan orang pembohong. Walaupun dia adalah orang yang sudah Anda anggap sebagai sahabat.

4. Tidak mau mengakui kesalahan

Sudah tidak mau mengakui kesalahan, tidak mau minta maaf pula. Huft, kadang suka sebal menghadapi dengan orang seperti ini. Padahal dia jelas-jelas melakukan kesalahan, tapi dia tetap tidak mengakuinya. Mencari-cari kesalahan yang kita buat pula dia lakukan untuk menutupi kesalahannya.

Seharusnya jika dia benar-benar sahabat, ketika dia salah, maka dia mengakui kesalahannya. Lalu minta maaf dengan ucapan yang tulus dari hatinya. Lalu, tidak akan mengulangi kesalahannya sama sekali.

Ketika Anda melihat teman atau sahabat Anda yang tidak mau mengakui kesalahan, sebaiknya hati-hati. Apakah dia benaran sahabat atau teman? Atau hanyalah seorang yang hadir ketika senang doang.

Oh ya, beda tipis lah dengan teman yang selalu benar sendiri. Seolah perkataan dia yang selalu benar, perkataan orang lain tidak benar. Terkadang, dia terkesan sangat egois. Sehingga apa yang dia inginkan harus didengarkan, sedangkan apa yang diinginkan orang lain tidak dia dengarkan, termasuk keinginan orang terdekatnya.

5. Merendahkan dan meremehkan

dengarkan apa yang dia katakan

Kadang itu muncul di hadapan kita. Dia dengan lantangnya merendahkan kita. Gaya bicaranya juga begitu menyebalkan. Belum lagi sampai dia meremehkan kita. Memang, menyebalkan, kadang kita tidak menyadari hal tersebut.

Belum lagi kalau dia bicara di belakang kita. Syukur-syukur membicarakan kebaikan, sehingga tidak masalah. Ini mah membicarakan keburukan. Seolah-olah dia ingin menyebarkan aib kita kepada orang lain. Hal ini sudah menunjukkan kalau dia bukan teman, tapi seorang yang seharusnya dijauhi.

Seharusnya teman atau sahabat sejati itu tidak akan mau merendahkan atau meremehkan sahabatnya. Bahkan dia akan marah ketika ada orang lain menjelek-jelekkan teman atau sahabatnya. Mereka adalah orang yang akan membela teman atau sahabatnya.

Ketika ada teman yang merendahkan bahkan meremehkan. Seolah kita ini tidak bisa apa-apanya. Bahkan dia melakukan hal tersebut di depan orang lain. Memang sih, kadang tidak menyadarinya. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, tega dia melakukan demikian?

Penutup

Banyak orang berkata, “Sebaiknya dalam milih sahabat itu pilih-pilih,” dan terkadang apa yang dikatakan itu benar apa adanya. Sebaiknya pilih-pilih, apakah dia sahabat sejati atau teman palsu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *