Home / Kisah Inspiratif / Sesungguhnya Cinta Sejati Itu Tidak Butuh Alasan
Sesungguhnya cinta sejati itu tidak butuh alasan

Sesungguhnya Cinta Sejati Itu Tidak Butuh Alasan

Dia bernama Adi, dia seorang karyawan biasa. Mungkin prestasinya di sebuah instansi akan membawanya ke kehidupan yang cerah. Namun, sayangnya masa depan yang cerah itu tidak sebanding dengan kisah cintanya.

Entah kenapa, dia dari zaman SMP tidak pernah jatuh cinta. Sehingga dia kebingungan jika membicarakan topik masalah cinta. Karena hal tersebut sangat jauh dari apa yang dia alami, karena belum punya pengalaman. Banyak yang berkata kalau jatuh cinta itu akan membuat jantung berdebar, namun Adi belum merasakannya. Ada yang bilang kalau jatuh cinta itu membuat diri kepikiran terus kepada dia. Adi juga tidak merasakannya. Nasib sebagai orang single itu, ketika ikut pembicaraan percintaan dengan teman, namun tidak bisa mengikuti arah pembicaraan mereka.

Namun, sepertinya takdir berkata lain. Suatu hari, di siang hari, di hari Senin, dia sedang buru-buru berangkat menuju instansi tempat dia bekerja. Dan entah kenapa, pandangannya menghadap ke sosok wanita. Wanita yang lembut dengan kecantikannya yang tidak bisa diucapkan.

Wanita itu sedang duduk termenung seorang diri. Mungkin dia menunggu bus, karena dia duduk di halte bus. Namun, pandangannya mengatakan kalau dia tidak sedang menunggu bus, namun menatap ke arah lain.

Tidak ada yang tahu ke mana tatapan wanita itu, hanya hati dia yang tahu. Dan itulah yang membuat Adi bertanya-tanya sampai dia tidak konsentrasi bekerja. Pikirannya selalu ke wanita itu.

“Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?”

Itulah yang dipikirkan Adi. Dia baru kali ini merasakannya, dan rasa itu sungguh aneh. Hanya seorang wanita, mampu membuat jantungnya berdebar-debar. Dan anehnya, debaran tersebut sangat aneh. Tidak seperti debaran jantung yang sedang ketakutan, begitu keras. Atau ketika sedang konsentrasi, tidak terasa debaran. Namun debaran ini begitu terasa dan memberi arti sesuatu.

Adi tidak bisa tinggal diam. Dia pun mencari info mengenai wanita itu. Beruntung Adi mampu berbohong dengan baik. Dan pada akhirnya, dia mendapatkan informasi mengenai wanita itu. Wanita itu selalu menunggu bus di halte tersebut.

Pada sat pulang kantor, Adi pergi ke halte bus untuk menjumpai wanita itu. Namun, ketika dia melihat wanita itu, jantungnya berdebar penuh arti dan matanya menatap wanita itu. Mata wanita itu sama seperti tadi pagi. Ada arti tersendiri bagi tatapannya.

Sehingga dia tidak berani untuk mengajak kenalan. Dia hanya menatap dari kejauhan. Entah kenapa, kakinya begitu berat untuk beranjak.

Dan itulah yang selalu dia lakukan selama satu minggu. Dia datang pagi-pagi hanya untuk melihat wanita itu dan pulang dengan langkah cepat hanya untuk melihat wanita itu. Tidak ada yang berubah dengan aktivitasnya. Rasanya, baginya melihat wanita itu dari kejauhan sudah cukup baginya.

Hingga suatu hari, Adi terpaksa berkenalan dengan wanita itu. Karena dia semakin tidak tahan dengan mata wanita itu. Semakin hari menunjukkan kesedihan yang teramat dalam. Dengan terbata-bata dia berkenalan dengan wanita itu.

Syukurnya wanita itu tidak berpikir aneh. Dia menerima kehadiran pria itu.

“Namaku Lia, salam kenal.”

Itulah perkenalan yang pertama kali bagi Adi yang sangat mendebarkan baginya. Dia tidak menyangka kalau dia akhirnya mengajak kenalan. Padahal, dia sangat takut untuk berkenalan dengan orang baru.

***

Perkenalan mereka mengalir begitu saja. Tanpa terasa, sebulan mereka kenalan dan mereka semakin akrab. Entah siapa yang mulai, entah siapa yang terlebih dahulu membuka hati, perkenalan mereka semakin dekat. Seolah takdir berkata kalau mereka berkenalan.

Dan perubahan yang terjadi para Adi begitu terlihat. Setelah berkenalan dengan Lia, Adi semakin sering tersenyum. Hidupnya penuh dengan warna. Jika sebelumnya Adi hidup dengan warna putih, kini bisa menjadi merah muda, merah, kuning, dll.

Adi selalu menyempatkan diri untuk pergi ke hal tersebut. Karena disanalah mereka akan bertemu. Lia selalu menunggu bus, karena memang ada kebutuhan dengan bus tersebut. Dan pertemanan mereka, semakin dekat.

Terkadang Adi mencari alasan agar bisa satu bus dengan Intan. Entah dia bilang satu arah atau mencari tempat dengan bus tersebut. Sebetulnya bukan karena dia ingin menaiki bus, namun ingin hanya sekadar bercanda dengan Intan.

“Hey, kamu ini. Aku tahu kamu tidak ada urusan dengan bus ini. Tapi kamu selalu ya naik bus ini,” kata Intan setengah bercanda kepada Adi. Intan juga lama-lama merasakan ada hal yang janggal dengan Adi kenapa selalu mencari alasan dengan naik bus.

“Nggak apa-apa,” kata Adi sambil membuang muka. Muka dia memerah karena menahan malu. Melihat reaksi Adi yang demikian, membuat Intan sedikit paham.

Intan bukannya belum pernah merasakan cinta. Dia sudah merasakan cinta beberapa kali, namun itu adalah pengalaman yang pahit. Dan alasan dia beberapa waktu yang lalu terkadang menatap dengan tatapan kosong, sebelum berkenalan dengan Budi, karena kisah cinta dia yang kandas.

Cinta dia di masa lalu memiliki alasan untuk mencintai. Ketika ditanya, “Kenapa kamu mencintainya?” maka ada saja alasan yang dijawab Intan. Dia berkata, “Dia lembut, perhatian, penyayang, dll,” namun kini, dia tidak tahu alasan apa yang harus diucapkan mengenai hatinya.

Adi memantapkan hatinya untuk membuat keputusan yang sulit, keputusan sekali seumur hidup, mungkin.

Bulan berikutnya, setidaknya sudah dua bulan mereka kenalan, Adi mendatangi orang tua Intan dan melamarnya. Tentu saja Intan begitu terkejut, namun dia tidak bisa menyembunyikan senyumannya.

“Kenapa kamu mencintai Intan?” tanya ayahnya Intan.

Pertanyaan ini sangat membingungkan bagi Adi, karena hal tersebut tidak pernah terpikirkan olah Adi. Dia hanya mengikuti kata hatinya, itu saja. Dia tidak memikirkan atau bahkan tidak terpikir apa alasan dia kenapa jatuh cinta.

“Saya tidak tahu. Yang saya tahu saya mencintainya. Ketika saya mencari alasan kenapa saya mencintainya, saya tidak menemukan jawabannya. Saya, mencintainya tanpa alasan.”

Dan itu juga yang dirasakan Intan. Dia juga tidak tahu alasan apa yang membuat dia jatuh hati kepada Adi.

Dan pada akhirnya, hubungan cinta mereka terus berlanjut hingga di masa tua.

***

Terkadang kita mencari tahu kenapa mencintai seseorang. Mungkin karena sifat dia, fisik dia, ataupun pekerjaan dia. Namun, kebanyakan cinta sejati itu tidak butuh alasan. Cinta sejati hanya tahu tentang perasaan dan tidak mengerti dengan logika. Perasaan berbanding terbalik dengan logika. Banyak hal yang tidak bisa dipikirkan oleh logika mengenai perasaan.

Anda dan dia tidak membutuhkan alasan kenapa masing-masing jatuh cinta. Cinta tersebut mengalir begitu saja, seolah-olah cinta itu takdir menyatukan Anda dan dia.

Dan, laki-laki yang baik itu adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Laki-laki tidak mau menunda-nunda keinginan untuk bertemu dengan orang tua pasangan. Jika dia laki-laki yang kurang baik, kemungkinan besar dia takut bertemu dengan orang tua si perempuan. Karena dia merasa belum siap. Sedangkan laki-laki yang baik, walaupun gugup, tapi dia tetap memaksakan diri.

Sesungguhnya cinta sejati itu tidak butuh alasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *