Home / Pengembangan Diri / 8 Langkah Mudah Mempertahankan Semangat Menulis
semangat menulis

8 Langkah Mudah Mempertahankan Semangat Menulis

Semangat menulis memang naik turun. Hari ini semangat menulis, mungkin saja keesokan harinya jadi nggak mood menulis. Kalau lagi semangat menulis, menulis itu rasanya lancar banget. Tapi kalau lagi nggak mood, boro-boro menulis, imajinasi saja tidak jalan. Aduh.

Sejatinya semangat itu memang naik turun seiring bertambahnya waktu. Ada gitu kejadian, tiba-tiba semangat menulis. Padahal sebelumnya lagi nggak mood. Entah angin apa yang datang, bangun tidur tiba-tiba semangat deh buat nulis. Tapi ya, itu jarang banget terjadi, hehe.

Semangat menulis memang tidak bisa diramalkan. Tapi sebisa mungkin mulailah mengontrol semangat tersebut. Memang biasa mengontrolnya? Bisa sih tapi grafik yang dihasilkan tidak konstan. Maksudnya nggak selamanya berada di semangat maksimal. Bisa jadi setengah semangat setengah malas. Yang penting ada kata semangat untuk menulis.

Langkah Mudah Mempertahankan Semangat Menukis

Ok tanpa mempersingkat kata berikut 8 langkah mudah mempertahankan semangat menulis.

1. Ingat-ingat alasan menulis

Setiap orang ada alasan untuk menulis. Alasannya bermacam-macam. Mungkin ada yang ingin menyalurkan hobinya sebagai penulis. Ada juga mungkin ingin mengerjakan tugas dari guru/dosen. Ada juga mungkin ingin terkenal. Ada juga yang ingin menghasilkan uang yang cukup. Ada yang ingin menyalurkan ilmu yang dia miliki. Banyak faktor yang membuat seseorang memutuskan menulis.

Maka dari itu, sesekali ingatlah kenapa Anda ingin menulis. Mungkin ada motivasi tersendiri terhadap diri Anda sehingga Anda semangat menulis.

Terkadang, kita lupa akan motivasi ingin menulis. Rasanya menulis itu sangat berat sehingga mulai deh jadi malas. Tulisan jadi terbengkalai percuma. Maka dari itu, ketika rasa itu datang, mulailah ingat masa lalu. Mulailah ingat kenapa Anda memutuskan untuk menulis.

2. Mencoba Menulis Lagi

Kalau lagi semangat-semangatnya sih pastinya menulis itu tidaklah berat. Rasanya menulis itu ngalir saja. Tidak ditemukan halangan yang berarti ketika memutuskan untuk menulis. Jari jemari dengan lancar menari di atas keyboard.

Tapi bagaimana jika semangat menulis turun drastis. Tidak ada keinginan untuk menulis. Atau ada keinginan tapi nggak mampu berbuat untuk menulis. Rasanya berat gitu untuk menari di atas keyboard atau kertas.

Maka dari itu, paksakan diri Anda untuk menulis lagi. Kalahkan keinginan yang mengekang Anda. Berusahalah, sehingga ketika Anda memulai lagi menulis, Anda akan ketagihan lagi.

3. Berusaha rutin menulis

Ketika sudah memulai menulis lagi, selanjutnya apa? Berusahalah untuk rutin menulis. Dengan demikian, maka tubuh akan dipaksa untuk terus menulis hingga akhirnya Anda secara tidak sadar selalu menulis.

Seperti penggambaran ini. Anda sangat malas untuk belajar. Tiba-tiba ada salah satu guru yang sangat bagus, sehingga meningkatkan semangat Anda belajar. Maka mulailah hari-hari dipenuhi belajar. Tanpa lelah dan tanpa letih. Sebulan dua bulan semangat tersebut masih terjaga. Namun ketika beberapa bulan seterusnya, semangat tersebut turun. Tapi karena Anda telah cinta dengan pelajaran tersebut, Anda memaksakan diri. Hingga tanpa sadar Anda selalu belajar.

Begitulah gambarannya dengan menulis. Rata-rata orang mulai menulis karena dia cinta akan menulis. Syarat pertama akan kecintaan tulis menulis telah ada. Seterusnya memaksa diri untuk selalu menulis, hingga tanpa sadar tubuhnya telah terbiasa menulis.

4. Carilah tempat inspiratif

Jika biasanya menulis di dalam rumah, di kamar lagi, maka mulailah cari suasana baru. Istilahnya menyegarkan pikiran. Kalau setiap hari menulis di tempat yang sama tentu pikiran menjadi jenuh. Seperti air panas yang telah dicelupkan teh berwarna coklat. Terus menambah gula satu. Satu sendok gula masih bisa dilarutkan. Tiga sendok gula masih bisa dilarutkan. Tapi bagaimana dengan dua puluh sendok? Maka tidak bisa dilarutkan lagi. Itulah yang dikatakan air teh tersebut berada di titik jenuh.

Begitulah dengan pikiran juga. Jika setiap hari menulis dalam suasana yang sama. Maka lama kelamaan jenuh juga. Akibatnya, semangat menulis menjadi turun.

Pergi ke luar mencari tempat inspiratif bisa meningkatkan semangat untuk terus menjaga. Dan juga menyegarkan pikiran. Misal menulis di cafe gitu. Atau menulis di perpustakaan, bagus itu.

5. Jangan sendirian tapi sesekali berkumpullah dengan komunitas penulis

Penulis emang identik dengan penyendiri. Telah terbiasa bermain dengan dengan imajinasi sehingga terkadang lupa untuk berinteraksi. Di imajinasinya dia begitu lihat berinteraksi, namun di dunia nyata begitu terkendala untuk menulis.

Apa yang terjadi jika terus sendirian? Biasanya sih pikiran tidak terbuka. Ketika mood menulis turun, tidak ada yang memberikan kata semangat untuk terus berkarya.

Inilah salah satu gunanya dari komunitas. Sebagai wadah untuk berkumpul, saling berinteraksi satu sama lain. Saling belajar hal baru, berbagai pengalaman seru yang menunjang keterbaikan tulisan. Selain itu, saling memberikan nasihat. Oh ya, ada juga kok saling berbagi pengalaman suka suka jadi penulis.

Dengan berkumpul ke komunitas, rasanya berada di dunia yang sesuai dengan diri. Maka rasanya satu sama lain saling terhubung. Jika tiba-tiba mood malas menulis muncul, maka beberapa orang di komunitas ingin berbagai rasa tersebut. Dan juga, dengan berkumpulnya dengan komunitas penulis, akan memunculkan imajinasi baru. Imajinasi semakin berkembang.

7. Luangkan Waktu Istirahat Sejenak

Seperti air panas yang telah dicelupkan teh. Jika lima sendok diberikan gula secara perlahan, gula tersebut masih bisa dilarutkan. Namun bagaimana jika air panas yang dicelupkan teh tersebut diberikan lima gelas sendok gula secara bersama? tentu gula tidak bisa larut.

Maka dari itu, ketika semangat menulis berada di tingkat minimum, luangkanlah waktu untuk istirahat sejenak. Sebisa mungkin jauhkan pikiran dari dunia tulis menulis. Istilahnya, refreshing gitu loh.

Bisa pergi ke pantai yang indah dengan pemandangan pasir putih dan laut biru. Atau pergi mendaki ke gunung dengan pemandangan pohon dan rerumputan hijau. Atau bisa juga ke wahana permainan yang mengundang gelak tawa.

Dengan beristirahat, juga membuat otak untuk charger. Jika sebelumnya daya otak sudah sepuluh persen karena digunakan untuk menulis. Jika daya otak sudah habis atau tinggal sedikit lagi dayanya, maka mood menulis menjadi turun hingga ke tahap malas. Tapi jika daya otak hampir sedikit dan dilakukan charger, tentu daya otak menjadi segar. Seperti smartphone yang dilakukan charger ketika dayanya hampir habis, tentu peformanya kembali seperti semula.

8. Berikan deadline untuk the power of kepepet

Hidup Cuma Sekali

Terkadang, seseorang akan mengeluarkan kemampuan maksimalnya ketika keadaan dalam genting. Maka keluarlah yang namanya the power of kepepet.

Bayangkan ketika Anda berada di tengah pulau, tidak ada seorang pun di sana. Awalnya sih masih tidak tahu harus berbuat apa. Namun lama-kelamaan insting bertahan hidup mulai muncul. Maka mulailah muncul ide brilian.

Begitu juga dengan waktu mendekati deadline. Maka, untuk memaksa semangat menulis, tentukan kapan deadline. Tapi bagi penulis yang telah bekerja di perusahaan atau freelance sudah familiar deh yang namanya deadline.

Demikianlah 8 langkah mudah mempertahankan semangat menulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *