Home / Kisah Inspiratif / Lima Pohon Kelapa yang Ingin Mencapai Puncak
Lima Pohon Kelapa yang Ingin Mencapai Puncak

Lima Pohon Kelapa yang Ingin Mencapai Puncak

Ada lima benih pohon kelapa. Mereka tumbuh pada hari yang sama. Mereka satu per satu menyapa yang lain. Rasanya menyenangkan telah mendapatkan teman. Mereka bermimpi untuk tumbuh besar dan tinggi suatu hari nanti.

Kebetulan sumber makanan di daerah mereka tumbuh begitu berlimpah. Tanah yang mereka tempati sangat subur dan juga sesekali turun hujan yang menyegarkan mereka. Seolah-olah langit berkata, “Tumbuh subur ya.”

Mereka adalah kelapa 1, kelapa 2, kelapa 3, kelapa 4, dan kelapa 5. Kenapa diurutkan berdasarkan angka? Biar gampang saja penyebutan namanya.

Pada masih kecil, kepala 1 sampai kelapa 5 masih belum terlihat perbedaannya. Mereka tumbuh subur. Mereka menyapa satu sama lain.

“Hey, aku mau tumbuh tinggi menggapai langit,” kata kelapa 3 dengan semangatnya.

“Aku juga ingin tumbuh! Bahkan mengalahkan kamu kelapa 3! Hahaha,” kata kelapa 1.

“Aku juga, aku juga, aku juga,” kata kepala 2,4, dan 5 berbarengan. Mereka juga membuat perlombaan.

“Siapapun yang akan tumbuh besar, dia yang akan menjadi bos, wahahaha,” sebenarnya ini hanya canda si kelapa 4. Entah kenapa kelapa yang lain menyanggupinya. Pada hari itu, mereka bertekad untuk terus tumbuh.

Pada hari pertama, seminggu, sebulan, dan setahun masih terlihat tumbuh mereka barengan. Namun, sudah menjadi pengetahuan umum kalau semakin besar  tumbuhan tumbuh berarti kebutuhan akan makanan semakin banyak. Dan anehnya, tanah mereka tempati tidak mencukupi. Artinya mereka mencari sumber makanan lain.

Satu per satu para kelapa mencari sumber makanan lain. Akar mereka seolah-olah berlomba untuk mencari sumber makanan baru. Mereka saling berkompetisi untuk menjadi yang terbaik.

Ada yang mengarahkan akarnya menuju sungai, ada yang mengarahkan akarnya menuju daerah lain, ada juga yang mengarahkan akarnya menuju teman-temannya. Itulah kelapa 5. Dia berpikir kalau dia bisa mencuri makanan temannya. Ngapain harus repot-repot mencari makanan baru kalau bisa mencuri.

Kelapa 3 hanya diam ditempat saja. Dia mencari juga sumber makanan tapi tidak sampai jauh. Dia fokus untuk mencari makanan di kedalaman bumi. Memang, menggali tanah itu sangat sulit. Lebih mudah mencarinya sambil menjalar daripada menggalinya ke dalam. Namun kelapa 3 lebih memilih jalan yang sulit karena dia tidak ingin berebutan.

Perlahan-lahan, mulai terlihat perbedaan. Kelapa 5 yang mencuri makanan awalnya sih tidak ketahuan. Kelapa yang lain sangat aneh melihat perkembangan si kelapa 5. Karena kelapa 5 tidak terlihat berusaha keras mencari makanan tapi tubuhnya tumbuh subur.

“Hey, dari mana kamu dapat makanan kelapa 5?” tanya kelapa 2 penuh keheranan.

“Hehe, ada deh rahasia,” kata kelapa 5 sambil tertawa kecil.

“Hey, kamu masih menggali dalam tanah.?Sudah tidak ada gunanya. Lebih baik kamu menjalar. Lihat nih aku, tumbuh paling subur di antara kalian,” kata kelapa 4 dengan bangganya. Memang, akar kelapa 4 menuju sungai. Di dekat sungai sangat banyak sekali unsur hara sehingga dia tumbuh subur.

Namun sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga. Sepintar apapun kelapa 5 menyembunyikan kedok dia kalau dia pencuri, akhirnya ketahuan juga. Mungkin saat itu dia lagi sial. Karena terlalu serakah, dia tidak puas dengan mencuri makanan di kelapa 2, dia mengambil makanan di kelapa 4, hingga akhirnya ketahuan. Para kelapa yang lain sangat marah kepadanya. Mereka pun tidak membiarkan kelapa 5 mencuri.

Sejak saat itu kelapa 5 dianggap sebagai pencuri dan mereka semua menjauhinya. Nasib malang sudah terlanjur. Selama ini dia terbiasa mencuri, dia tidak membutuhkan kerja keras untuk mendapatkan makanan. Namun kali ini dia harus bekerja keras. Karena sudah terbiasa tidak bekerja membuat dia kewalahan. Lambat laun tubuhnya semakin kurus hingga akhirnya dia tumbang. Dia sudah tidak kuat lagi untuk tumbuh subur.

Sekarang tinggal 4 kelapa lagi. Mereka terus melanjutkan kehidupan mereka. Namun satu minggu kemudian, terjadilah banjir. Air sungai menguap, sehingga aliran sungai semakin deras. Inilah kesalahan dari kelapa 4. Dia mendekatkan akarnya mendekati sungai sehingga akarnya pun perlahan terseret oleh aliran sungai. Kelapa 4 mencoba untuk bertahan namun kuatnya aliran sungai membuatnya tidak berdaya.

Kelapa 4 pun tumbang.

Kelapa 2 menempatkan akar mereka ke wilayah lain. Pada saat itu sih wilayah itu hanyalah rerumputan, sehingga tidak masalah. Namun lambat laut wilayah tersebut terkena bencana. Wilayah itu tidak terkena hujan sedikitpun alias musim kemarau. Aliran air juga tidak ada di wilayah tersebut karena air sungai yang menguap telah menghancurkan aliran air ke daerah tersebut.

Kelapa 2 semakin hari semakin kelaparan. Dia tidak menyangka kalau dia akan tertimpa kesialan demikian. Dia pun semakin pasrah akan hidupnya. Lambat laun akhirnya dia pun tumbang.

Sekarang tinggal kelapa 1 dan kelapa 3. Mereka tumbuh saling berlomba. Walaupun kelapa 1 lebih sedikit gemuk karena akarnya memang berada di wilayah lain dan untungnya wilayah tersebut subur tanpa terkena bencana.

Akar kelapa 4 semakin masuk ke dalam Bumi. Perlahan-lahan kerja keras dia semakin terasa. Dia mendapatkan sumber makanan baru dari dalam Bumi.

Tubuh kelapa 1 dan kelapa 3 semakin tinggi. Kini tinggi mereka kurang lebih delapan meter. Ketika waktu kecil, angin yang mengganggu mereka tidak terasa. Karena tubuh mereka kecil sehingga badan mereka tidak goyang. Namun beda dengan tubuh mereka sudah tinggi. Terkena sedikit angin saja maka tubuh mereka goyang.

Semakin hari angin semakin kencang. Mungkin angin tersebut adalah angin biasa saja. Namun bagi mereka berdua yang tubuhnya sudah tinggi, angin tersebut terasa akan merubuhkan tubuh mereka.

Kalapa 1 yang membuat akarnya di tempat lain, dia semakin sulit untuk mempertahankan tubuhnya. Karena pegangan yang dia pegang sangat lemah. Sedangkan kelapa 3 yang telah membuat akarnya ke dalam Bumi, pegangan dia semakin kuat. Sekuat apapun angin berhembus, dia mampu menahan semua hal tersebut.

Perlahan tapi pasti, kelapa 1 tidak mampu menahan hembusan angin. Secara perlahan dia mulai roboh.

Terakhir adalah kelapa 3. Dia menjadi yang tertinggi dan tersubur.

***

Untuk mencapai sesuatu memang ada dua pilihan. Pilihan instan dan pilihan tidak instan namun membutuhkan kerja keras. Seperti akan mendapatkan nilai baik. Pilihan instannya adalah mencontek atau belajar semalaman namun habis ujian pelajaran dilupakan. Sedangkan pilihan tidak instan yaitu dengan belajar dari awal mulai pelajaran, mencatat setiap catatan penting, tidak melupakan pelajaran yang telah dipelajari.

Awalnya sih pasti terlihat lebih sukses pilihan instan. Namun ingat juga, pilihan instan tersebut cepat sekali jatuh. Seperti seseorang yang terbiasa mendapatkan nilai tinggi hasil mencontek. Ketika dia dihadapkan ujian yang tidak bisa membuatnya mencontek, dia kewalahan dan nilainya hancur banget.

Namun jika mencari sesuatu tidak instan, memang lambat berkembang namun bertahan lama. Seseorang yang mendapatkan nilai tidak instan, belajar dengan sungguh-sungguh. Mungkin prestasi yang dia peroleh sih biasa saja. Namun ketika berada di perlombaan yang mengharuskan seseorang mengeluarkan kemampuan terbaiknya, misalnya di Olimpiade sains, dia tampil sebagai yang terbaik. Dia juga tampil yang terbaik di tahun berikutnya.

Untuk mencapai sesuatu, janganlah mencari yang instan. Bekerja keraslah. Memang sih perkembangannya lambat namun hasil yang didapat begitu indah dan bertahan lama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *