Home / Kisah Inspiratif / Kura-Kura Pekerja Keras dan Kelinci Sombong
Kura-Kura Pekerja Keras dan Kelinci Sombong

Kura-Kura Pekerja Keras dan Kelinci Sombong

Di sebuah hutan entah berantah, ada sekumpulan hewan yang hidup rukun. Harimau yang merupakan raja hutan ditunjuk sebagai pemimpin para hewan. Harimau memimpin dengan bijaksana, sehingga para hewan tampak sejahtera.

Di hutan tersebut saling tolong menolong satu sama lain. Karena masing-masing binatang tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing. Misal sang beruang madu yang tidak bisa memanjat tebing padahal kebanyakan madu berada di atas tebing. Terkadang elang membantu mengambil madu untuk beruang.

Namun tidak dipungkiri, ada beberapa binatang dengan kelebihan dia menjadi sangat sombong. Dan kesombongan itu akan menjatuhkan dia cepat atau lambat. Itulah hukum alam, siapapun yang terlalu bangga dengan kelebihan dia, maka kelebihan itu yang akan menghancurkan dirinya.

Kelinci yang sangat lincah, dia berlari dengan sangat cepat. Terlihat sekali kalau dia cekatan. Beberapa rintangan dahan pohon dia lewati dengan mudahnya. Perasaan dia, dia adalah yang tercepat dari semua hewan.

Beberapa hewan juga mengakui kecepatan kelinci. Namun, hampir semua hewan tidak suka dengan kelinci. Hal ini karena sifat sombongnya. Dia bahkan dengan lantangnya berkata, “Tidak ada yang mengalahkan aku dalam berlari, hahaha,” di hadapan semua binatang. Bahkan di hadapan cheetah. Padahal jika diadu kecepatan lari antara kelinci dengan cheetah, justru kelinci kalah telak. Namun cheetah tidak mau ambil pusing.

“Biarkan saja dia sombong begitu, nanti akan menjatuhkan dia kelak,” begitu kata cheetah dalam hati.

Dan harimau hanya mendiamkan saja. Dia yakin kalau kelinci akan jatuh juga nantinya.

Namun, semakin dibiarkan, kelinci semakin sombong.

***

Suatu hari kelinci bertemu dengan kura-kura. Dia melihat kura-kura itu berjalan dengan lambat banget. Memang sudah menjadi rahasia umum, kalau kura-kura berjalan lambat, walaupun dia bekerja keras agar tidak lambat. Namun itulah kelemahan dia dari lahir. Kura-kura tidak malu dengan kelemahan dia, dia menerimanya dengan ikhlas.

“Aduh, kenapa lambat sekali kamu kura-kura?”

“Memang inilah kelamahanku,” kata kura-kura dengan santainya. Dia tidak tersinggung jika hewan lain mengatakan kelemahannya. Karena dia telah menerima kelemahannya, sehingga kelemahan itu tidak disembunyikan. Dia menjadi diri sendiri apa adanya. Menunjukkan kelemahan dia dan menunjukkan kelebihan dia.

Kelebihan kura-kura adalah cangkangnya yang kuat. Kadang hewan lain sering bercanda kalau kura-kura membawa rumah di punggungnya. Kekuatan cangkangnya tidak terkalahkan. Bahkan gigi buaya yang terkenal tajam tidak mampu merusak seutuhnya cangkang kura-kura.

Namun kura-kura dengan rendah hati berkata, “Ini hanya satu kelebihan dari seribu kelemahan saya.”

“Sini deh biar aku mengajarkan cara lari cepat,” kata kelinci kepada kura-kura. Sebenarnya kelinci bukan untuk mengajari kura-kura. Namun dia ingin mengejek kura-kura. Rasanya dia senang banget mengejek hewan lain yang lebih lemah daripada dia.

“Baiklah, coba ajari aku,” kata kura-kura dengan ramahnya. Sebenarnya dia sudah tahu kalau kelinci tidak benar mengajari dia. Tapi tidak apa-apa bagi dirinya. Toh walaupun kelinci semakin mengejek dirinya, dia juga tidak tersinggung.

“Caranya kita lomba lari. Siapa yang lebih dahulu sampai ke ujung jembatan sana, dialah pemenangnya.”

Ujung jembatan itu memang tidak begitu jauh. Jaraknya hanya kurang dari 500 meter. Kura-kura menyetujui tanpa ragu sedikitpun.

Kelinci juga memanggil hewan lain sebagai saksi dan juri. Ditunjuklah harimau sebagai juri karena dia adalah pemimpin dari binatang. Sebenarnya kelinci memanggil seluruh hewan. Karena hewan-hewan lain tidak suka dengan sifat kelinci, sehingga mereka datang.

“Mungkin inilah akhir dari kesombongan kelinci,” itulah yang dipikirkan para hewan.

“Bersiap…!” teriak harimau dengan kuat sekali. Kelinci dan kura-kura bersiap untuk berlari.

“Hahaha, kamu akan kukalahkan dalam sekejap,” kata kelinci dalam hati.

“Mulai!” teriak harimau. Kelinci melesat dengan cepatnya. Hanya beberapa menit saja, kelinci sudah jauh berada di depan. Sedangkan kura-kura baru saja meninggalkan garis start.

Meskipun kura-kura tahu kalau dia akan kalah telak, namun dia tidak mau menyerah. Baginya, lebih baik kalah daripada menyerah. Sebelum diumumkan kekalahan, dia lebih baik berusaha sekeras mungkin.

Kelinci semakin cepat melesat ke depan. Ketika dia melihat ke belakang, ternyata kura-kura masih meninggalkan garis start. Itu membuat kelinci semakin meremehkan kura-kura.

“Hahaha, aku sudah setengah jalan kamu masih baru meninggalkan garis start. Dasar lambat!”

Kelinci berpikir untuk beristirahat sebentar. Tidur siang beberapa jam saja, palingan kura-kura tidak akan mampu mengejar dia. Kalau tertinggal sedikit, kelinci akan berlari sekuat tenaga dan pemenangnya adalah dirinya.

Kelinci beristirahat di bawah pohon rindang. Dengan angin sepoi-sepoi yang mengenai dirinya, membuat kelinci mengantuk. Lambat laun dia pun tertidur. Di dalam mimpinya, kelinci berhasil mengalahkan kura-kura. Dia pun semakin meledek kura-kura dengan perkataan “lambat”. Terlihat sekali kalau kelinci suka dengan kejadian tersebut, kelinci tertidur sambil tersenyum.

Kura-kura semakin berusaha untuk menuju garis finish. Lambat namun pasti, kura-kura semakin mendekati garis tengah. Dia melihat kelinci keenakan tidur. Dia pun melanjutkan perjuangannya. Dia berpikir kalau ini adalah kesempatan dirinya. Pantas saja tidak ada ucapan kemenangan dari tadi. Padahal seharusnya kelinci sudah sampai menuju garis finish.

Hewan-hewan lain juga berpikir kalau kelinci akan jatuh hari ini. Tidak ada yang mencoba membangunkan kelinci. Semuanya bahkan menginginkan kelinci agar terus tidur hingga kura-kura mendekati garis finish.

Kura-kura semakin berjuang, semakin berjuang, semakin berjuang. Dengan keringat yang bercucuran, akhirnya dia hampir sampai ke garis finish. Kurang dari 5 cm dari posisi dia ke garis finish. Para hewan pun bersorak gembira, memberi semangat kepada kura-kura.

Namun karena para hewan terlalu bersemangat memberi semangat kepada kura-kura, membuat kelinci terbangun dari tidurnya. Dia terkejut karena kura-kura hampir mendekati garis finish. Dia langsung berlari sekuat tenaga.

Para hewan melihat perjuangan kelinci berlari sekuat tenaga, justru hewan tidak kasihan dengan kesialan kelinci. Mereka malah memberi semangat kepada kura-kura.

“Ayo kura-kura kamu pasti bisa!” teriak para hewan. Bahkan sorakan yang berbunyi, “Kura-kura, kura-kura, kura-kura,” terdengar keras sekali dan serempak.

Suasana semakin tegang. Kelinci berlari sekuat tenaga dan hampir mendahului kura-kura. Sedangkan kura-kura hampir mendekati garis finish. Semua hewan tampak tegang, begitu juga dengan harimau.

Hingga akhirnya kura-kura berhasil menyentuh garis finish, yang membuktikan kalau dialah pemenanganya. Padahal, kelinci berada tepat di belakang kura-kura. Ketika harimau berkata, “Kura-kura pemenangnya,” seluruh hewan bersorak gembira.

Kelinci yang sombong yang menyombongkan kecepatan berlarinya, dikalahkan oleh kura-kura yang sangat lambat dalam bergerak.

***

Banyak orang berkata kalau kesombongan itu akan menghancurkan dirimu. Dan itu memang benar, kesombongan akan terus menghancurkan dirimu sedikit demi sedikit. Kadang, kehancuran akan kesombongan itu berjalan perlahan tanpa sadar.

Tidak ada orang yang suka dengan orang sombong. Justru orang lain sangat bahagia kalau orang sombong itu jatuh.

Walaupun memiliki kelebihan, janganlah terlalu membanggakan kelebihan tersebut sehingga bersifat sombong. Setiap orang memiliki kekurangan, jangan malu akan kekurangan tersebut. Karena dibalik kekurangan ada kelebihan yang tidak terduga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *