Home / Kisah Inspiratif / Kisah dan Pelajaran Lalat dengan Tempat Sampah
Kisah dan Pelajaran Lalat dengan Tempat Sampah

Kisah dan Pelajaran Lalat dengan Tempat Sampah

Ada suatu tempat, awalnya tempat itu bersih banget. Terlihat segar sepanjang mata memandang. Dilihat dari manapun, tempat itu begitu menyejukkan. Sehingga banyak banget orang yang mengunjungi tempat tersebut.

“Hei mau ke taman itu nggak?”

“Iya dong. Tempat itu kan indah, hati tenang berada di sana.”

Namun karena banyak banget orang yang berkunjung, dan juga karena rendahnya pemahaman orang mengenai buang sampah pada tempatnya. Satu persatu sampah dibuang di sembarang tempat.

Tong sampah memang tersedia, bahkan terlihat jelas kalau setiap sudut ada tong sampah. Namun, orang-orang tidak membuang sampah di tong sampah, melainkan lebih memilih di sembarang tempat.

Pelan tapi pasti, taman itu mulai berubah. Yang dulunya hijau segar, masih hijau sih, tapi hijau menghitam. Terlihat jelas kalau tempat itu penuh dengan tumpukan sampah.

Bau busuk mulai tercium. Pemandangan tidak sehat mulai terlihat. Lambat laun, taman itu berubah. Tidak lagi taman yang indah namun taman penuh dengan tumpukan sampah.

Awalnya hanya satu lalat yang menyadari tempat tersebut. Namun lalat ini memberitahukan kepada temannya. Sehingga banyak sekali lalat yang berkumpul di taman itu.

Dulu taman itu penuh dengan kunjungan orang-orang namun sekarang dipenuhi kunjungan lalat.

Beberapa orang berusaha mengusir lalat tersebut. Ada yang menyemprotkannya dengan semprot serangga, berharap lalat tersebut mati. Ada yang membakar sampah, sehingga sampah semakin berkurang, namun lalat tetap ada. Karena sehabis sampah, terdapat abu. Dan juga, membakar sampah sejatinya bukan membakar sampah keseluruhan namun sebagian saja.

Lalat ketika dilakukan penyemprotan, perlahan begitu sengsara. Beberapa orang berpikir kalau lalat tidak akan muncul. Namun kenyataannya semakin muncul. Semakin disemprot lalat tersebut semakin muncul.

Ketika sampah dibakar, beberapa jam memang lalat pergi. Namun setelah beberapa jam kemudian, lalat berdatangan, malah semakin banyak.

Hingga ada satu orang yang berinisiatif untuk membersihkan sampah. Sampah tersebut dikumpulkan dan dibuang ke tempat pembuangan sampah. Nanti petugas pembuangan sampah membuang sampah tersebut ke tempat yang telah disediakan. Tempat tersebut khusus untuk tempat sampah. Nantinya sampah tersebut akan diolah menjadi barang yang berguna.

Awalnya lalat masih bertahan. Namun semakin berkurang sampah, lalat semakin berkurang jumlahnya. Namun, semakin berkurang jumlah lalat, aroma busuk yang tercium semakin kuat.

Hingga akhir sampah tersebut hilang seluruhnya dan lalat tersebut menghilang sepenuhnya. Hingga akhirnya taman yang kotor kembali menjadi taman yang bersih seperti sedia kala.

***

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari kisah di atas. Yakni:

1. Semakin kotor jiwa semakin banyak keburukan

Ibarat jiwa tersebut adalah taman. Kotoran adalah sampah dan keburukan adalah lalat.

Taman yang kotor akan mendatangkan lalat. Semakin kotor taman semakin banyak lalat. Begitulah gambarannya dengan jiwa. Jiwa yang kotor akan selalu mendatangkan keburukan.

Kadang keburukan itu berdampak pada orang lain. Seperti sebuah taman, bukan hanya taman itu yang menghasilkan bau busuk, pemandangan tidak sedap, serta sakit mata memandang. Namun juga orang lain yang mengunjungi taman tersebut terkena imbasnya.

Jiwa yang kotor juga demikian. Yang terkena imbas bukan hanya jiwa. Namun orang-orang yang ada di dekatnya. Sehingga selalu saja mendatangkan keburukan bagi jiwa yang kotor.

Seperti sebuah taman, tidak ada keindahan yang terlihat di sana. Begitu juga dengan orang berjiwa kotor. Melihat orang tersebut tidak ada keindahan. Entah kenapa, ada rasa tidak suka memandangi orang tersebut.

Siapa yang tahan berhadapan dengan taman yang kotor? Adalah orang yang kotor pula, kecuali bagi orang yang berusaha membersihkan taman tersebut.

Maka teman bagi orang berjiwa kotor adalah orang berjiwa kotor pula.

2. Jiwa kotor bila terus dibiarkan akan semakin kotor

Sebagaimana sebuah taman yang kotor. Kok terus dibiarkan begitu saja, maka akan semakin kotor. Entah darimana datangnya kotoran tersebut. Yang pasti, kotoran akan semakin banyak.

Begitu juga dengan jiwa yang kotor. Jiwa yang dibiarkan terus-menerus akan semakin kotor. Disadari atau tidak disadari, memang demikian terjadi.

Misalnya awalnya Anda hanya berdusta mengenai uang jajan kepada orang tua. Mungkin awalnya hanya beberapa ribu saja. Namun, Anda terus melakukan kebohongan. Tanpa Anda sadari, jumlah uang yang Anda minta semakin besar. Tanpa sadar, Anda pun membohongi uang negara.

Semua keburukan tersebut dimulai dari hal yang kecil yang tidak dibersihkan. Dibiarkan begitu saja, hingga disadari atau tanpa disadari, keburukan tersebut semakin besar dan semakin parah.

3. Taman yang kotor hendak dibersihkan

Siapa yang tahan melihat taman yang kotor? Tidak ada yang tahan kecuali orang yang kotor juga.

Maka banyak orang yang berusaha membersihkan taman yang kotor sehingga nantinya terlihat indah seperti sedia kala.

Jiwa yang kotor jangan terus dibiarkan kotor. Nanti kotoran tersebut semakin menumpuk.

Bersihkan jiwa yang kotor tersebut. Bagaimana cara membersihkan jiwa yang kotor? Yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bertobatlah, usahakan jangan melakukan keburukan yang sama.

Perhatikanlah, orang yang benar-benar bertobat begitu adem dilihat. Walaupun sebelum dia bertobat, begitu banyak keburukan yang dia lakukan. Melihat dirinya saja sudah muak. Namun, ketika dia bertobat, rasanya senang sekali melihatnya.

Taman yang sudah dibersihkan kembali, walaupun mungkin masih belum indah seperti sedia kala, namun banyak orang yang melihatnya. Rasanya orang senang melihat taman yang telah dibersihkan.

Begitu juga dengan jiwa. Banyak orang yang senang melihat orang yang telah bertobat, tobat yang sebenarnya.

4. Jiwa bersih maka kotoran pun hilang

Sebagaimana taman, ketika taman tersebut telah dibersihkan. Maka lambat laun lalat akan pergi dengan sendirinya.

Begitu juga dengan orang yang membersihkan diri dari keburukan. Lambat lain keburukan tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Awalnya dia adalah seorang pendusta. Banyak sekali keburukan bagi para pendusta. Mulai dari setiap ucapan dia tidak dapat dipercaya. Belum lagi para pendusta kerap menipu orang-orang polos yang tidak tahu apa-apa. Para pendusta ini senang sekitar mengubah fakta, yang seharusnya salah, namun dengan ucapannya menjadi benar.

Ketika pendusta ini bertobat, tobat yang sebenarnya. Awalnya orang sangat tidak senang melihatnya, namun lambat laun mulai senang. Kebaikan mulai mendatangi dia yang bertobat. Lambat laun orang mulai percaya dengan apa yang dikatakan dia.

Hingga akhirnya, dia yang awalnya pendusta, mengubah kebenaran adalah keahliannya, berbalik melawan para pendusta lain. Dia menjadi orang yang terus mengedepankan kebenaran. Kalau itu benar dia berkata benar, kalau salah dia berkata salah.

Itulah akhirnya kebaikan bagi pendusta yang bertobat seluruhnya. Dia berbalik melawan para pendusta yang mengubah fakta kebenaran.

5. Jiwa menjadi tenang ketika telah dibersihkan

Setiap mata pasti merasa sakit ketika melihat taman yang kotor namun terlihat tenang/teduh ketika melihat taman yang telah dibersihkan.

Jiwa yang kotor, sebenarnya tidak ada ketenangan di dalam dirinya. Bisa dilihat dalam contoh sehari-hari. Betapa banyaknya orang mengkonsumsi alkohol hanya untuk mencari ketenangan. Sayangnya alkohol itu tidak memberikan ketenangan namun mendatangkan masalah baru.

Berapa banyak orang mencari ketenangan namun mereka begitu sulit menemukannya. Hal ini karena jiwa mereka kotor namun tidak dibersihkan.

Ketika jiwa dibersihkan, ketika melakukan tobat yang sebenarnya, rasanya jiwa ini begitu tenang.

Contohnya Anda adalah seorang pendusta. Disadari atau tidak disadari, terkadang terbesit rasa bersalah. Rasa bersalah karena telah berdusta dan hati kecil berkata kalau dusta itu adalah perbuatan yang salah.

Ketikan Anda bertobat sebenar dari dusta, rasanya jiwa ini begitu tenang. Tidak ada lagi perlawanan batin.

***

Jiwa yang kotor tidak ada kebaikan di dalamnya, yang ada malah keburukan. Maka dari itu, jangan biarkan jiwa kotor. Segeralah bertobat untuk membersihkan jiwa yang kotor. Ketika jiwa telah bersih, begitu banyak kebaikan yang didapat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *