Home / Kisah Inspiratif / Kebaikan Awan Kecil yang Mampu Mengubah Padang Pasir
Kebaikan awan kecil yang mampu mengubah padang pasir

Kebaikan Awan Kecil yang Mampu Mengubah Padang Pasir

Ada sebuah awan kecil, awan tersebut sangat kecil sehingga tidak bisa menghasilkan hujan. Bagi awan, hujan merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka. Awan yang hitam, mempunyai banyak sekali tetesan air, serta menghasilkan petir yang menggelegar, berarti itu dianggap awan yang terbaik.

Namun, semenjak awan terbentuk, dia memang awan kecil. Dia tidak bisa menjadi awan yang lebih besar. Entah kenapa, mungkin takdir dia yang terus menjadi kecil. Awalnya awan itu tidak terima kalau dia itu kecil.

Memang keterbatasan fisik kadang tidak diterima. Dia berusaha semampunya untuk menjadi awan yang besar. Memang, ada beberapa kasus dengan keterbatasan fisiknya, dengan bekerja keras mampu membuat fisiknya lebih baik daripada yang memiliki kesempurnaan fisik. Namun tidak jarang juga hal tersebut tidak berpengaruh. Seolah-olah sia-sia apa yang dilakukan selama ini. Dan itulah yang terjadi pada awan kecil tersebut. Dia telah berusaha untuk menjadi awan keras, namun tetap tidak bisa. Tubuh dia tetap kecil, tidak ada penambahan atau pengurangan.

“Hey, minggu kamu! Mengganggu saja!” kata awan besar kepada awan kecil. Dia hanya bisa mengalah saja.

“Hey, kamu tuh tidak ada gunanya! Hahaha.”

“Hey kecil, sebaiknya kamu jangan macam-macam!”

Awan kecil itu sering sekali dibully oleh awan besar. Rasanya awan besar tidak suka dengan awan kecil. Bagi mereka, awan kecil itu pengganggu bagi mereka. Ketika mereka besar, menunjukkan keperkasaannya. Rasanya keperkasaan tersebut hilang karena kemunculan awan kecil.

Dan awan kecil sering banget diintimidasi awan besar, bahkan terkadang awan besar sering banget menjahili awan kecil. Rasanya, bagi awan kecil hidup itu tidak adil. Sepertinya hidup itu hanya untuk bagi mereka yang kuat.

Awan kecil bersedih, dia bersedih teramat sangat. Dia berjalan tidak tentu arah. Dia berjalan mengelilingi dunia ini. Ingin rasanya dia menangis, dia memang sudah menangi, namun tidak ada air mata yang mengalir.

Awan kecil sebenarnya kuat, hatinya. Karena dia tidak membiarkan diri dia menangis di depan semua orang. Walaupun dia kecil, lemah, namun dia berusaha untuk tidak menangis. Dia berusaha untuk terlihat tegar. Hanya itu yang bisa dia lakukan.

Hingga tanpa sengaja, dia ke padang pasir yang sangat tandus. Padang tersebut sangat tandus dan panas, tidak ada kehidupan di sana. Jangan hewan, tumbuhan pun tidak ada di sana.

Selain panas, ternyata padang pasir ini tidak memiliki unsur hara. Sebenarnya ada unsur hara, namun harus dilarutkan oleh air terlebih dahulu. Tapi, tidak ada awan besar yang datang ke tempat ini, karena tempatnya yang tandus. Mereka berpikir tidak ada gunanya untuk memberikan hujan ke padang pasir itu.

“Toh tidak ada juga yang hidup di sana,” itulah yang dipikirkan oleh awan besar.

Namun hati kecil awan kecil tergerak. Dia ingin membuat padang pasir itu menjadi padang rumput. Dia ingin memberikan sesuatu untuk hidup dia yang kecil ini. Tubuh dia memang kecil, namun dia ingin memberikan manfaat yang besar.

Seakan tahu kalau tubuhnya kecil dan tidak bisa menghasilkan hujan yang banyak, dia berkeliling ke seluruh dunia, mencari awan besar yang rela membantu dirinya. Namun, tidak ada yang ingin membantunya.

Rasanya sia-sia bagi awan kecil untuk mencari bantuan. Dan akhirnya dia kembali lagi ke padang pasir yang tandus tersebut. Dia bersedih hati, karena awan besar tidak membantunya. Padahal, dia ingin sekali membuat padang pasir ini menjadi padang rumput.

Dia pun berkeliling sekali lagi, mengelilingi padang pasir. Dan kebetulan, ternyata ada satu tumbuhan kaktus yang tumbuh. Namun, tubuhnya mulai mengering karena tidak mendapatkan air.

“Hay,” sapa awan kecil.

“Hehe, hay juga awan kecil,” kata tumbuhan kaktus dengan suara pelan. Tenaganya sudah tidak ada karena kehabisan tenaga.

“Apa yang kamu lakukan di padang rumput ini?” tanya pohon kaktus. Selama hidupnya, baru awan kecillah yang dia lihat. Tidak ada awan besar yang dia lihat selama hidupnya.

“Aku ingin mengubah padang pasir ini menjadi padang rumput.”

“Hahaha, apakah kamu bisa?” tanya pohon kaktus.

Awan kecil bersedih hati. Dia menyadari kalau dia tidak bisa memberikan hujan dengan air yang banyak. Ketika dia memberikan hujan, hanya setetes dua tetes yang mampu dia hasilkan.

Pohon kaktus bercerita, “Hey awan kecil. Tahukah kamu ada maksud sesuatu diri kita diciptakan? Dan tahukah kamu kalau ada manfaat yang besar dari kebaikan sederhana? Sesungguhnya jika melakukan kebaikan, walaupun kecil akan memberikan manfaat yang besar. Tapi ya … kadang kita tidak melihat manfaat tersebut. Atau manfaat tersebut akan terasa beberapa tahun kemudian. Yang penting, jangan menyerah dalam berbuat kebaikan.”

Awan kecil mendengar sepatah kata dari pohon kaktus. Dia begitu takjub dengan apa yang dikatakan pohon kaktus. Rasanya, dia ingin sekali memberikan kebaikan, yang bermanfaat bagi semua orang.

“Apakah kamu tahu kalau tanah ini sebenarnya sangat subur? Banyak unsur hara di dalamnya, namun tidak ada air yang melarutkannya.”

Awan kecil itu mengangguk setuju. Dari awal dia sudah tahu akan hal demikian.

Pohon kaktus itu kembali berkata kepada awan kecil, “Jika ingin melakukan kebaikan, sebaiknya lakukan segera. Jangan pernah menunda melakukannya, walaupun kebaikan itu kecil namun sebenarnya itu memberikan manfaat yang luar biasa.”

Awan kecil tersentuh dengan perkataan pohon kaktus. Awan kecil memutuskan tekadnya untuk memberikan hujan di padang pasir ini. Dengan sekuat tenaga, dia berusaha menghasilkan air hujan.

Namun, walaupun sekuat tenaga dia berusaha tapi hanya menghasilkan kurang lebih dua puluh tetas air. Dan pada akhirnya, awan kecil tidak bisa bergerak lagi. Dia telah kehabisan tenaga menghasilkan dua puluh tetes air.

Namun, tetes air tersebut menyentuh padang pasir tersebut. Masuk ke dalamnya, menyentuh unsur hara di dalamnya. Dan unsur hara tersebut mulai melarut akibat dari dua puluh tetes, walaupun tidak larut banyak sih.

Akibatnya, di padang pasir yang tandus itu, ada tempat kecil yang tanahnya sedikit subur. Hal ini karena berkat dua puluh tetesan air yang melarutkan unsur hara.

Awalnya tidak ada yang tahu. Namun, beberapa tahun kemudian datang spora. Spora tersebut tanpa sengaja berdiam diri di tanah yang sedikit subur. Hingga akhirnya, spora tersebut tumbuh menjadi tumbuhan yang indah.

Setelah menjadi tumbuhan, dia menebarkan sporanya di sekitar tanah tersebut. Sehingga tumbuh lagu tanaman.

Dan ketika melihat beberapa tanaman tumbuh di padang pasir yang tandus. Mengundang beberapa awan besar untuk memberikan hujan di padang pasir itu. Mereka berlomba-lomba memberikan air hujan.

Hingga lambat laun, unsur hara yang berlimpah di dalam tanah tersebut melarut seutuhnya, menghasilkan tanah yang tumbuh subur. Beberapa tumbuhan mulai tumbuh dengan indahnya.

Sedikit demi sedikit, padang pasir tersebut berubah menjadi padang rumput yang cantik. Dan satu per satu beberapa hewan mulai menetap di sana. Dan beberapa puluh tahun kemudian, padang pasir tersebut telah berubah menjadi padang rumput.

***

Berawal dari kebaikan dua puluh tetes air, yang melarutkan sedikit unsur hara, hingga akhirnya menghasilkan padang rumput.

Kebaikan apapun itu, walaupun kecil, akan menghasilkan manfaat yang luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *