Home / Motivasi Diri / Jangan Jadi Orang Pelit! Nanti Harta Itu Tidak Bermanfaat
Jangan Jadi Orang Pelit! Nanti Harta Itu Tidak Bermanfaat

Jangan Jadi Orang Pelit! Nanti Harta Itu Tidak Bermanfaat

Kalau sudah mendapatkan kecukupan, sebaiknya jangan menjadi orang pelit. Iya, jadi orang dermawan saja, itu jutaan kali lebih baik. Kenapa? Karena orang pelit ini berusaha untuk menyimpan hartanya, baginya berbagi itu tidak ada. Padahal, harta yang didapat sebenarnya bukan hasil kerja keras dia seutuhnya 100%.

Kenapa dikatakan bukan kerja keras seutuhnya? Misalnya kalau kita sebagai pedagang. Bukankah ada pegawai, pemilik toko, penjaga toko, produsen? Itu mereka bukankah membantu kita dalam urusan perdagangan? Kalau bekerja kantoran, bukankah ada rekan kerja dan atasan?

Jadi, keberhasilan yang didapat, baik berupa kecukupan harta maupun prestasi sebenarnya bukan karena kerja keras kita 100%, namun ada kerja keras orang lain disana. Maka, ketika kita menyadari hal tersebut, masih sempat kita menjadi orang pelit?

Iya sih, ada beberapa orang yang asyik banget membagi uang, tapi untuk orang kaya, orang yang satu level dengan dia menurutnya, asyik traktir temannya. Bukan seperti ini yang dimaksud. Kenapa tidak menyisihkan sedikit saja harta untuk orang yang membutuhkan.

Nggak banyak kok. Ibarat katanya nih, dua ribu satu hari untuk orang membutuhkan itu jutaan kali lebih bermanfaat dibandingkan satu juta untuk orang berkecukupan. Iya sih, kalau membagi uang kepada orang berkecukupan ada perasaan bangga di hati.

Setidaknya ada 2 dampak besar dari orang pelit tersebut yakni:

  • Harta akan berkurang.
  • Dibenci dunia.

Maksudnya gimana sih?

1. Harta akan berkurang

Memang kalau dilogikakan agak gimana gitu. Gimana ceritanya orang pelit harta akan berkurang. Namun, pengalaman dari orang-orang pelit akan merasakan demikian.

Analoginya seperti ini saja, ada seseorang yang berkecukupan, dia terkenal pelit banget. Dia tidak mau membantu orang lain karena takut harta berkurang. Tentu orang lain juga tidak mau membantu dia.

Seperti Anda, apakah Anda mau membantu orang pelit? Rasanya sulit sekali.

Sehingga, kalau tidak ada yang membantu dia, lambat laun harta yang dia banggakan akan habis juga. Dan ketika hartanya habis, semakin menderita lagi karena tidak ada yang membantu.

Hidup ini kadang di atas dan kadang di bawah. Tidak selamanya kita berada di atas namun tidak selamanya berada di bawah pula. Saat ini kita berada di atas, menikmati harta yang berkecukupan. Sedangkan orang lain ada yang berada di bawah. Jangan menutup mata melihat mereka yang berada di bawah. Ulurkan tangan Anda, berikan sebagian harta Anda.

2. Dibenci dunia

Dunia ini gambarannya seperti apa sih? Iya selain dibenci oleh manusia, rasanya harta pun tidak mau berpihak kepada orang pelit. Gimana harta mau berpihak sedangkan manusia saja benci. Harta itu mau bergerak kalau ada orang yang disenangi.

Misal, orang senang menjadi pegawai kita. Maka, pegawai tersebut akan bekerja keras dan tanpa ada beban. Kalau pegawai bekerja keras, kita pun senang juga kan. Tentu saja karena pegawai bekerja keras, banyak sekali pundi rupiah yang dihasilkan.

Coba kalau kita menemukan pegawai yang terpaksa. Artinya dia tidak suka menjadi pegawai kita. Kerja pun asal-asalan dan tidak peduli. Mau untung mau rugi tidak urusan dia.

Itu sih gambaran sederhana saja. Namun, kehidupan tidak demikian. Tidak hanya menyangkut urusan satu atau dua orang saja. Urusan jutaan orang ada di situ.

Misal kalau Anda pelit, Anda tidak mau memberikan sedikit harta kepada panti asuhan. Orang di panti asuhan mungkin ada mengatakan kalau ada orangnya tidak baik, kebetulan yang mendengar bos Anda sendiri. Hasilnya, mungkin kehidupan kantor Anda tidak akan mulus.

Kesimpulan

Jangan jadi orang pelit, jangan! Tidak ada kebaikan menjadi orang pelit, yang ada jutaan keburukan. Tidak ada salahnya membagi sebagian harta ke orang yang membutuhkan. Toh kalau dibagi, harta tidak akan berkurang, justru sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *