Home / Pengembangan Diri / 5 Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Membuka Social Media
5 Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Membuka Social Media

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Membuka Social Media

Social media sepertinya erat kaitannya dengan kita di zaman sekarang ini. Rasanya tiada hari tanpa membuka social media. Seperti ada sesuatu yang mendorong kita untuk terus membuka social media. Apakah itu untuk menjalin pertemanan, menemukan jati diri, berekspresi, berkarya, dll. Namun, ada yang perlu diperhatikan ketika membuka social media.

Social media sudah banyak banget ragamnya. Ada yang Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, dll. Dan jumlah pengguna di antara social media tersebut banyak banget. Rasanya orang berkumpul di social media.

Sehingga menghubungkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat. Ketika di social media, terasa seperti bicara dengan sahabat, begitu dekat dan hangat. Namun, ketika di kehidupan sebenarnya tidak demikian. Ketika berkumpul bersama teman, memilih bersenang-senang di social media daripada di kehidupan nyata, fenomena ini tidak mengherankan.

Hal yang Diperhatikan Ketika Membuka Social Media

Ok, tanpa mempersingkat kata, berikut 5 hal yang perlu diperhatikan ketika membuka social media.

1. Social media adalah dunia maya!

Berapa banyak orang yang lupa kalau social media itu adalah dunia maya? Terkadang banyak yang beranggapan sebenarnya social media adalah dunia nyata. Apa yang ditampilkan di social media adalah kenyataan. Kenyataan kalau seorang ceria walaupun aslinya dia pemurung. Kenyataan kalau dia ada masalah, padahal itu adalah drama. Kenyataan kalau itu adalah kebenaran, namun kenyataannya bohong.

Social media itu dunia maya! Sangat berbeda dengan dunia nyata. Banyak orang yang garang di dunia maya namun aslinya dia penakut. Banyak orang yang terlihat ceria di social media, namun aslinya dia pemurung. Terkadang, apa yang dilihat di social media seperti hanyalah akting/drama saja.

Anda mempunyai dunia nyata, jangan terlena dengan dunia maya. Jangan menganggap dunia maya itu adalah dunia nyata. Kedua hal tersebut berbeda, bahkan berbeda jauh. Apa yang ditampilkan di dunia maya, jangan serta merta langsung percaya. Kritis terhadap apa yang ditampilkan di social media.

Biasanya, banyak orang hanya menampilkan sisi terbaik dari kehidupan mereka di social media. Di Instagram di posts foto begitu bahagianya dia bersama teman. Terlihat banget kalau mereka akrab. Kelihatan sih akrab, ya akrab di foto doang. Padahal, ketika berkumpul bersama teman, garing gitu, semua temannya termasuk dia asyik dunia di dunia maya.

Dunia maya tidak selalu sama dengan dunia nyata.

2. Anda sebagai target iklan

Pernah membuka social media? Terus pernah melihat sebuah iklan terpampang? Kepada siapa iklan itu dituju? Tidak lain dan tidak bukan adalah Anda, si pengguna social media. Dengan iklan tersebut, si pembuat iklan merasa beruntung, karena banyak yang mengetahui barangnya dan juga si perusahaan social media beruntung karena ada pengiklan. Secara tidak langsung Anda adalah ladang uang.

Belum lagi Anda tertarik dengan iklan yang ditampilkan. Misalnya sebuah tas murah banget dengan ukiran unik. Anda tertarik, Anda melakukan transaksi. Sukses besar, target iklan tercapai.

Iya sih, social media itu gratis digunakan. Dari mana si perusahaan social media mendapatkan keuntungan? Salah satunya dari iklan. Jadi tidak salah juga sih kalau social media menampilkan iklan.

Seperti stasiun televisi, mengakses stasiun televisi gratis, ada sih yang berbayar namun mayoritas gratis. Dari mana mereka mendapat keuntungan? Salah satunya adalah iklan.

Siapa target iklan? Anda.

3. Fokus pada prioritas

Banyak yang Berhenti di Tengah Jalan Karena Tidak Fokus

Di social media ditampilkan kehidupan mewah dengan barang mewah. Perjalanan di tempat mewah yang menghabiskan jutaan rupiah. Wajar kalau Anda tergoda. Siapa yang tidak tergoda dengan kenikmatan dunia.

Namun, kalau hal tersebut dibiarkan, maka kita yang hancur. Misalnya, tergoda dengan barang mewah yang dilihat di social media. Ternyata harganya mencekik leher, namun tetap dipaksakan juga. Seandainya kalau bisa menahan diri, uang yang dipunya bisa digunakan ke hal lain yang lebih bermanfaat. Namun ini terbuang percuma hanya karena tergoda di social media.

Fokus pada prioritas Anda. Anda menggunakan social media untuk berteman, fokus, jangan sampai melenceng menjadi pembeli. Anda menggunakan social media untuk berkarya, fokus, jangan sampai menjadi pembeli atau tukang copy paste.

Sebenarnya apa yang ditampilkan di social media begitu menyilaukan. Karena kebayakan dari orang-orang menampilkan apa yang terbaik bagi kehidupan mereka. Ada yang rela menghabiskan banyak uang hanya untuk mendapatkan foto terbaik. Ada yang membutuhkan ribuan inspirasi agar menghasilkan karya terbaik.

Sekali lagi fokus kepada prioritas, Anda sebagai target iklan dan kemewahan, jangan mudah tergoda.

4. Jujur

Berapa banyak sih kebohongan di social media? Sepertinya banyak kebohongan di sana. Misalnya seseorang menampilkan foto kalau dia bahagia, namun sebenarnya dia bersedih. Bukankah itu termasuk kebohongan?

Di status menuliskan kalau dia adalah seorang yang bahagia, namun aslinya tidak begitu bahagia. Dia berkata kalau dia senang banget akan kehidupannya, tidak ada kesedihan di sana. Menyilaukan banyak mata akan kehidupan dia. Namun sesungguhnya sangat berseberangan dengan apa yang ditulis di status.

Hanya untuk mendapatkan perhatikan di social media, sampai harus membohongi diri sendiri maupun semua orang? Upload foto sedang bahagia padahal aslinya sedih, bukankah itu termasuk membohongi diri sendiri dan semua orang?

Boleh-boleh saja berusaha mendapatkan perhatikan (like, comment, subscribe, follow, dll), namun jangan tempuh dengan kebohongan.

Dan lagi, jangan menyebarkan berita bohong! Hal ini sangat fatal akibatnya. Sebarkan berita yang jujur. Salah satu kegunaan social media adalah mendapatkan berita. Namun apa jadinya kalau Anda, misalnya menyebarkan berita bohong? Berapa banyak orang yang Anda bohongi?

5. Kritis dan santun

Banyak banget berita tersebar di social media, memang salah satu kegunaannya itu. Namun, apakah semua berita yang ditampilkan adalah berita jujur? Tentu ada berita bohong. Maka dari itu perlu berpikir kritis. Jangan menganggap berita yang ditampilkan di social media adalah kebenaran seratus persen. Apalagi bagi berita yang sumbernya tidak ada apalagi meragukan.

Berpikir kritislah, jangan termakan berita bohong. Periksa kebenaran dari berita tersebut. Jangan mudah tersulut api kemarahan hanya karena berita bohong dari orang tidak bertanggung jawab.

Santun juga dalam bersocial media. Memang, mengganti foto profil sangat mudah di social media. Bisa saja menggunakan foto palsu. Memang, tempat tinggal Anda mungkin bisa disamarkan, bahkan bisa diubah. Di social media alamatnya di luar negeri padahal aslinya di dalam negeri. Namun, apakah itu berarti Anda bebas berkata kasar di social media?

Memang social media tempat untuk berekspresi, namun bukan untuk berekspresi kekasaran. Anda boleh berkata apapun di social media, namun bukan untuk berkata kekasaran.

Santun dalam bersocial media bisa dibilang keharusan.

Penutup

Daya tarik social media sangat kuat, rasanya ingin rasanya membuka social media setiap saat. Kita juga bisa menghabiskan waktu berjam-jam memperhatikan social media. Namun, jangan sampai social media menghambat perkembangan, kreativitas, pertemanan, kemampuan, santun, kebaikan Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *