Home / Motivasi Cinta / Apakah Benar Jatuh Cinta Mampu Mengalahkan Logika?
Tahapan Sebelum Menemukan Cinta Sejati

Apakah Benar Jatuh Cinta Mampu Mengalahkan Logika?

Jatuh cinta mengalahkan logika? Apakah itu memang benar? Memang sih, banyak orang berkata kalau sudah jatuh cinta maka kadang logika kalah sama dengan perasaan. Si perempuan berusaha keras untuk menyembunyikan cintanya, namun ketika cemburu dia malah tidak bisa menyembunyikannya. Si laki-laki yang awalnya pelit banget, namun ketika jatuh cinta menjadi gampang banget mengeluarkan duit.

Ada sebuah cerita sederhana mengenai jatuh cinta ini:

“Aku, adalah seorang laki-laki yang kesepian. Aku tahu kalau aku ini seharusnya berteman dengan orang lain. Namun aku memilih tidak berteman, mungkin karena sikapku yang kadang tidak ramah dengan orang baru.

Namun perempuan itu mengubah segalanya. Dia datang dengan senyuman lembutnya, menyapaku duluan dan pada akhirnya, hatiku yang keras untuk menolaknya menjadi luntur. Aku menjadi teman dia pada hari itu juga.

Hari demi hari dilalui dengan senang hati. Kadang aku berpikir kalau aku sedang sial bila berdua dengan dia. Karena aku mampu tersenyum dengan tulus padahal senyuman ini tidak pernah kutunjukkan kepada siapapun. Namun di depan dia, dia mampu membuatku tersenyum dengan tulus.

Hingga aku sadari kalau aku telah jatuh cinta kepada dia. Logikaku mengalahkan segalanya. Di saat dia sakit, aku langsung datang menjenguknya tanpa pikir panjang padahal dia hanya sakit flu saja. Ketika dia dekat dengan laki-laki lain aku merasa cemburu, dada ini terasa sesak rasanya hingga akhirnya sikapku sedikit berubah kepadanya ketika aku cemburu. Ketika aku marah kepadanya, dia mampu melunturkan kemarahanku lewat senyum manjanya.”

Ok dari cerita di atas adalah cerita mengenai seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta. Dia jatuh cinta dan akhirnya logikanya luntur. Logika yang selama ini dia pegang, dia tidak akan tersenyum dengan orang lain tiba-tiba luntur ketika jatuh cinta. Dia menjadi tersenyum dengan tulus di hadapan perempuan yang dia cintai.

Jadi, sebenarnya benarkah logika kalah ketika jatuh cinta?

Cinta mengalahkan logika

Banyak kisah yang kita temui di kehidupan sehari-hari maupun di tulisan romantis. Bahwa seseorang yang sedang jatuh cinta, siap melakukan apa saja untuk orang yang dia cintai. Apakah Anda juga termasuk orang yang telah mengorbankan segalanya untuk cinta?

Cinta mengalahkan logika karena perasaan untuk membahagiakan orang yang dia cintai. Dia akan senang melihat orang yang dia cintai senang dan dia akan terlihat sedih kala orang yang dia cintai sedih. Itulah dampak besar dari cinta.

Ketika dia melihat orang yang dia cintai menyukai barang tertentu. Walaupun dia sebenarnya sangat pelit banget. Ada dorongan untuk melakukan sesuatu kepada orang yang dia cintai. Dia ingin memberi kejutan kepada orang yang dia cintai agar bahagia. Melihat kebahagiaan merupakan jutaan kebahagiaan besar juga untuk dia.

Setiap malam dia memikirkan orang yang dia cintai. Kadang karena terlalu memikirkannya, dia akhirnya bermimpi mengenai orang yang dia cintai. Kadang mimpi itu muncul sesuai dengan apa yang kita pikirkan.

Cinta mengalahkan logika, memang karena inilah sifat dari cinta. Banyak banget penelitian mengenai cinta.

Ketika jatuh cinta maka tubuh akan memproduksi hormon oxytocin. Hormon ini mampu membuat orang menjadi senang. Ada rasa kebahagiaan yang sangat besar ketika tubuh mengeluarkan hormon oxytocin. Inilah yang menyebabkan kenapa orang jatuh cinta merasa sangat bahagia (Magon, N, dan Kalra, S, 2011).

Pertanyaannya, kenapa seseorang bisa jatuh cinta? Kenapa seseorang hanya bisa jatuh cinta kepada satu orang saja? Bagaimana proses jatuh cinta secara ilmiah dapat dijelaskan? Memang jatuh cinta itu berawal dari dekat, nyaman, dan tanpa sadar jatuh cinta. Secara ilmiah bagaimana?

Proses cinta dalam science di jelaskan dalam tiga tahap. Pertama adalah ketertarikan dengan mengeluarkan hormon testosteron/estrogen, lalu proses kecanduan memproduksi hormon dopamine, norepinephrine, dan serotonin, dan proses cinta kasih sayang dengan memproduksi hormon oxytocin (sitn.hms.harvard.edu).

Tahap ketertarikan maka laki-laki akan memproduksi hormon testosteron sedangkan perempuan akan memproduksi hormon estrogen. Produksi hormon ini akan terus berlanjut ketika kita tertarik dengan seseorang. Kita tahu, begitu mudah bagi kita untuk tertarik.

Misalnya pada laki-laki, lihat betapa mudahnya dia tertarik hanya dengan paras cantik perempuan. Kadang matanya melihat perempuan itu bagaikan mata elang. Kadang banyak orang disebut dengan mata keranjang, namun kadang para laki-laki tidak dapat melawan naluri demikian.

Perempuan yang tertarik dengan aktor tampan idolanya. Setiap dia mendengar kata mengenai aktor idolanya, dia akan dengan senang banget. Bahkan mengikuti serial yang dibintangi oleh aktor idolanya.

Hormon testosteron/estrogen akan terus diproduksi ketika kita tertarik. Namun hanya sebatas tertarik, belum jatuh cinta.

Ketika mulai muncul dari rasa cinta, hal ini karena produksi hormon testosteron/estrogen yang secara terus menerus, karena kita sudah terlanjur nyaman maka tubuh secara otomatis akan memproduksi hormon dopamine, norepinephrine, dan serotonin. Hormon dopamine membuat kita kecanduan. Bukan kecanduan seperti narkotika namun kecanduan untuk terus berada di sampingnya. Maka timbullah rasa rindu yang teramat dalam, inilah efek dari hormon norepinephrine. Secara tidak sadar, ketika kita mulai mencintai seseorang, kita kadang mengabaikan hal-hal yang perlu bagi tubuh kita. Kita mulai malas makan atau mulai banyak makan. Inilah akibat dari produksi hormon serotonin.

Dan produksi ketiga hormon tersebut secara terus menerus dan akhirnya tubuh memproduksi hormon oxytocin yang membuat kita selalu senang. Kita berusaha membahagiakan orang yang kita cintai. Dan tanpa sadar, logika tidak berfungsi ketika jatuh cinta. Inilah salah satu efek dari hormon oxytocin.

Secara sekilas cinta memang mendatakan kebahagiaan, memang demikian. Namun kadang kita lupa kalau terkadang cinta mampu mendatangkan rasa sakit.

Cinta mendatangkan rasa sakit

Ketika kita cemburu akan timbul rasa sakit di dada. Ketika kita patah hati maka kita akan menangis sejadinya. Ketika kita sedang berkelahi dengan kekasih, maka hati terasa sakit dan air mata ingin menetes. Inilah rasa sakit dari cinta.

Hormon dopamine adalah hormon kecanduan. Membuat kita ingin dekat dengan orang yang kita cintai. Bagaimana kalau kita tidak bisa dekat dengan orang yang kita cintai? Seperti orang yang kecanduan, maka secara sadar atau tidak sadar kita akan merasakan sakit luar biasa, apalagi di bagian dada.

Akibat dari hormon norepinephrine yang menimbulkan rasa kangen, membuat rasa sakit berkali-kali lipat rasanya. Ketika hormon dopamine dan norepinephrine memberikan rasa sakit, maka efek dari hormon serotonin semakin kuat. Kita semakin malas untuk makan, misalnya efeknya, tubuh akan sakit.

Hormon oxytocin memang memberikan rasa bahagia namun sekaligus melunturkan logika juga. Kita akan terus melakukan sesuatu untuk orang yang kita cintai. Kadang kita tidak mampu berpikir apakah dia sebenarnya membalas cinta kita atau tidak.

Jika secara logika mungkin kita akan tahu apakah dia membalas cinta atau tidak dilihat dari perbuatannya. Namun ketika jatuh cinta, hormon oxytocin menghancurkan logika sehingga kita tidak dapat membedakan apakah dia membalas cinta atau tidak.

Banyak orang terjebak dalam keadaan dia terus mencintai orang yang menyakiti dirinya.

Apakah benar jatuh cinta mampu mengalahkan logika? Itu benar sekali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *