Home / Kisah Inspiratif / Air Tidak Selamanya Diam Menerima Keserakahan Manusia
Air Tidak Selamanya Diam Menerima Keserakahan Manusia

Air Tidak Selamanya Diam Menerima Keserakahan Manusia

Di suatu daerah, daerah perbuktian. Di bukit sana terkumpul mata air. Pohon yang rindang dengan senang hati mengumpulkan air. Bagi pohon, mengumpulkan air merupakan pekerjaan yang sangat menyenangkan. Karena air ini nantinya akan dialirkan ke lembah, tempat para makhluk hidup tumbuh.

Air juga dengan semangatnya menuruni lembah. Berlari dengan kecepatan konstan. Suaranya sangat bising memang tapi membuat kangen. Wangi air yang khas menjadi petanda makhluk lain untuk mendekatinya.

Di setiap awan berubah menjadi hitam, air bersiap-siap untuk turun ke Bumi. Mereka sudah tidak sabar untuk memberikan sejuta kebaikan bagi makhluk hidup. Mereka sudah lelah menunggu, lelah menunggu setelah dibersihkan oleh awan.

Keika hujan turun, para air berlari berbondong-bondong satu sama lain. Seolah-olah mereka sedang mengadakan perlombaan siapa yang tercepat menuju Bumi. Dan pepohonan menangkap air untuk disimpan. Karena … air yang tidak ditahan akan menjadi musibah suatu hari nanti.

Sebelum air bersentuhan dengan manusia, air tersebut jernih sekali. Saking jernihnya, dasar air tersebut kelihatan. Terlihat jelas kalau banyak ikan yang berenang kesana kemari, siap untuk ditangkap. Namun siapa yang mau makan ikan? Kebetulan makhluk hidup di sana tidak doyan dengan ikan.

Para makhluk hidup berkumpul meminum air. Jika berada di tempat yang jauh dari air, para hewan berusaha memangsa satu sama lain. Singa memangsa rusa. Serigala memangsa kancil. Ular memangsa katak. Bahkan kadal memangsa nyamuk. Hal tersebut seperti siklus makanan yang menjadi rantai dan terus terjadi terus menerus.

Namun, di tempat air berkumpul, semua hewan tampak tenang meminum air. Tidak ada ketakutan bagi mereka. Memang mereka tidak menurunkan kewaspadaan mereka, namun bagi hewan pemangsa juga tidak ada niat untuk memangsa bila berada di dekat air.

Jika diperhatikan secara saksama, pemandangan tersebut begitu indah. Secara alami, semua makhluk menikmati air. Air adalah tempat untuk berkumpul, melepaskan dahaga, menikmati kebaikan.

Namun, manusia mulai menyentuh air tersebut. Hanya dalam waktu 3 bulan, manusia telah membuat bendungan.

Buat apa bendungan tersebut? Banyak alasan. Alasannya untuk manusia lain dengan alasan perikemanusian. Para manusia membuat bendungan untuk mengalirkan air menuju perkampungan. Namun, apakah benar demikian? Ataukah para manusia itu sebenarnya ingin menguasai air tersebut dari makhluk lain?

Air yang semula mengalir terpaksa berhenti. Air tidak tahu mau jalan kemana, karena jalur yang biasa dilewati telah ditembok dengan kuat sehingga tidak bisa tembus. Para hewan juga kesulitan untuk menggapai air, karena tempat sekeliling air tersebut telah dibangun tembok yang kokoh. Kalau ada hewan nekad masuk melompati tembok tersebut, dia tidak selamat di tangan manusia.

Para hewan mulai kekurangan air. Begitu juga dengan pepohonan. Keserakahan manusia menyebabkan mereka menebang pohon di hutan. Mungkin pepohonan itu berteriak, “Manusia tidak tahu berterimakasih! Aku yang menampung air untuk kalian, tapi kalian menghancurkanku!” tapi apa daya, suara pohon tidak sampai ke telinga manusia.

Hingga pada akhinya, banyak pepohonan yang ditebang dan akhirnya air tidak ada yang menahan. Lambat laun, jumlah air sangat besar mendatangi bendungan tersebut.

Selama ini air tidak tinggal diam. Air bersabar, menghimpun kekuatan untuk menghancurkan keserakahan manusia. Dan saat ini, air memiliki kekuatan itu. Dengan kekuatan jutaan ton menghantam tembok yang kokoh. Tembok tersebut hancur seketika.

Air yang selama ini ditahan tumbah begitu saja dan sasarannya adalah rumah penduduk. Para manusia menyebutkannya bencana banjir.

Para manusia menyalahkan alam. Kenapa alam menyebabkan bencana kepada mereka. Seandainya air bisa bicara, mungkin dia akan mengatakan, “Bukan aku yang menyebabkan bencana, tapi kalian! Kalian serakah sehingga kalian melupakan makhluk lain! Yang seharusnya makhluk tersebut mampu menahan kemarahanku!”

Namun apa daya, suara air tidak akan sampai ke telinga manusia. Manusia hanya bisa menduga-duga penyebab banjir tersebut.

Sebenarnya, salah satu penyebab bencana lahir karena keserakahan manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *