Home / Kisah Inspiratif / Air Kecil dan Batu Besar yang Bersabar Sehingga Mengubah Hidupnya
Air Kecil dan Batu Besar yang Bersabar Sehingga Mengubah Hidupnya

Air Kecil dan Batu Besar yang Bersabar Sehingga Mengubah Hidupnya

Di suatu tempat, tepatnya di pinggiran air terjun. Air terjun memang terkenal keindahannya. Baik sekali digunakan untuk tempat pariwisata. Sesekali, air terjun tersebut menghasilkan pelangi yang indah.

Namun, jauh dari lokasi air terjun itu, ada satu aliran air yang sedikit sekali jumlahnya. Entah kenapa terbentuk aliran tersebut. Aliran itu berakhir di sebuah batu besar.

Maka, satu per satu aliran itu mengenai batu besar. Tentu saja batu besar itu keberatan. Dia akan terkena tetesan air tanpa henti.

“Hey, jangan kamu tetesi aku!” teriak batu itu dengan nada marah.

“Maaf, aku tidak bisa berhenti,” teriak air tersebut. Air itu pun tidak bisa melawan takdir, dia akan terus menetesi batu besar tersebut.

Semua makhluk lain menganggap remeh kepada air dan batu itu.

“Hehe, apa gunanya kalian berdua. Kamu batu begitu besar. Tidak ada gunanya kamu di sini. Tumbuhan juga malas menetap bersamamu. Lebih baik kamu tinggali tempat ini.

Nah, ini lagi air. Kalau air terjun bagus, tapi ini hanya air setetes demi setetes. Tidak ada gunanya, hanya mengganggu pemandangan saja,” teriak burung elang yang kebetulan melewati daerah tersebut.

“Iya nih, entah apa gunanya mereka berdua,” teriak burung beo.

Batu dan air itu berkecil hati. Mereka begitu sedih ketika makhluk lain mengolok mereka. Sebenarnya, mereka tidak ingin seperti ini. Jika memilih, mereka ingin menjadi makhluk yang kuat, dan tidak bisa diolok.

Namun inilah ya g dikatakan takdir. Mereka menjadi seperti ini. Semua makhluk mengolok mereka tanpa henti. Berapa kali pun mereka menangis, tidak akan membuat makhluk lain berhenti. Kehidupan yang keras bagi mereka berdua.

Sang batu pernah berdoa agar digantikan bentuk dan rupa dia. Dia ingin menjadi makhluk yang kuat dan disegani. Setidaknya dia ingin menjadi singa. Aumannya begitu menakutkan. Dia berjalan saja, telah menunjukkan kewibawaan. Dan lagi, singa itu begitu keren. Atau dia ingin menjadi elang yang terbang bebas di udara. Dia bagaikan penguasa udara. Ketika di udara, tidak ada yang berani mengolok dirinya.

Begitu juga dengan air. Dia tidak ingin menjadi air kecil yang tidak ada gunanya. Dia ingin menjadi air yang besar. Dia begitu iri dengan air terjun yang letaknya tidak jauh dari tempatnya.

Air terjun begitu kuat, tampak begitu gagah, dan lagi, dia begitu indah. Banyak sekali makhluk yang menyukai air terjun. Sedangkan dirinya, begitu lemah tidak berdaya.

Atau air itu ingin berubah menjadi angin. Walaupun angin terlihat lemah nantinya, namun tidak ada yang menyadarinya. Tidak ada yang mampu melihat wujud sesungguhnya dari angin. Sehingga walaupun nantinya dia menjadi angin lemah, tidak ada yang mengoloknya. Tapi sebenarnya dia ingin menjadi angin yang kuat.

Namun, keinginan tetaplah keinginan. Sepertinya mereka memang sudah diciptakan demikian. Tidak dapat diubah lagi. Mungkin, jika mereka berusaha mengubah bentuk dan rupa diri mereka, mereka akan mendapatkan sesuatu yang buruk, yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya. Pernah sih mereka berusaha merubahnya, namun pada akhirnya mereka tetap air kecil dan batu besar.

Waktu pun berlalu begitu cepat. Satu sampai sepuluh tahun memang tidak menunjukkan apa-apa. Mereka tetap menjadi air kecil dan batu besar.

Namun, lebih dari dua puluh tahun, perubahan terjadi pada mereka. Wujud mereka memang masih air kecil dan batu besar. Namun ada sesuatu yang berubah.

Akibat dari air yang terus menerus menetesi batu besar, sehingga lambat lain batu itu melembab. Kelembapan batu tersebut begitu dingin.

Akibat dari melembab tersebut, batu semakin mudah terkelupas. Akibat dari terkelupas batu itu menyebabkan muncul tanah. Selain itu, akibat kelembapan batu yang pas, membuat tanah yang berterbangan menetap di batu tersebut.

“Hahaha hanya tanah kecil yang mau mendekati kalian,” kata burung elang dengan penuh tawa.

Begitu juga dengan makhluk lain, mereka tertawa dan semakin tertawa.

“Sabar ya tanah. Hal ini memang sudah biasa. Hampir setiap hari kami mendengar olokan mereka,” kata batu kepada tanah.

Tanah begitu bersedih mendengar olokan makhluk lain. Namun, karena hiburan dari batu, membuat dia semakin tabah.

Tiga puluh tahun, tujuh puluh tahun, dan seratus tahun berlalu. Tanah yang berkumpul di batu semakin banyak. Mereka senang karena kelembapan batu yang menurut mereka sesuai dan ada setiap saat air yang menetes.

Ketika tanah semakin banyak menempati batu tersebut, maka satu per satu tumbuhan mulai menetap di sana. Diawali sebuah spora yang tersesat dan memilih menetap di sana.

Satu tumbuhan yang tumbuh subur amat berarti bagi batu dan air. Karena hal ini mengubah semua pandangan makhluk lain. Mereka begitu terkejut dengan perubahan. Semua tidak ada yang mendiami, kini lambat lain mulai tumbuh.

Satu tumbuhan yang muncul dan dia tumbuh subur di sana. Mengundang tumbuhan lain untuk tumbuh di sana. Mereka melihat bahwa banyak sekali unsur hara di sana, dan juga memiliki kelembapan yang pas. Selain itu, ada air kecil yang menetes. Bagi tumbuhan itu amat berarti.

Hingga akhirnya, sepuluh tahun kemudian makin banyak tumbuhan yang tumbuh subur. Batu besar tadi sedikit demi sedikit mengecil, hal ini karena dirinya juga ikutan rapuh berkat tetesan air. Namun batu tidak marah kepada air.

Pemandangan di tempat batu dan air semakin indah. Lambat laun, para makhluk lain mulai melihat pemandangan batu dan air tersebut.

Awalnya hanya satu makhluk. Lama kelamaan, semuanya berkumpul di sana. Yang semula air dan batu selalu menjadi bahan olokan, kini berubah menjadi bahan pujian. Mereka tertegun dengan kesabaran air dan batu.

Bagaimana dengan nasib air terjun?

Air terjun tersebut tetap mengalir dengan indahnya. Sesekali memunculkan pelangi yang sangat indah. Namun, para mahkluk lebih tertarik mengunjungi batu dan air.

***

Memang kita tidak dapat memilih ketika dilahirkan. Ada yang dilahirkan dengan wujud yang rupawan, namun tidak sedikit pula dengan wujud biasa saja. Ada yang memiliki kecerdasan yang luar biasa, ada juga yang memiliki kecerdasan biasa saja.

Terimalah apa yang diberikan, jangan mengubah apa yang telah diberikan. Kadang kita iri melihat orang lain yang kesuksesan dia lebih cepat daripada kita. Bersabarlah dan terus berusaha.

Dunia ini seperti roda yang berputar. Kadang di atas dan kadang di bawah. Seseorang tidak selamanya selalu berada di atas, ada kalanya dia berada di bawah. Begitu juga seseorang yang lain, dia tidak selamanya di bawah, kadang di atas.

Cerita antara air terjun dan air kecil adalah contohnya. Semula air terjun itu begitu sukses dengan keindahan dia. Dan air kecil tidak begitu sukses. Namun, dunia ini berputar. Berkat kesabaran air kecil, mampu mengubah batu besar yang tidak ada apa-apanya menjadi pemandangan yang menakjubkan. Lambat laun, pemandangan berubah haluan. Tidak lagi melihat air terjun tapi melihat air kecil.

Terimalah apa yang telah diberikan, ada kalanya kesuksesan itu teramat dekat dengan kita, yang kita lakukan sampai kesuksesan itu dekat adalah sabar, usaha, dan doa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *