Home / Motivasi Diri / Ada Saatnya Kita Sebaiknya Mengabaikan Kata Hati
agar percaya diri

Ada Saatnya Kita Sebaiknya Mengabaikan Kata Hati

Beberapa orang bijak atau orang inspiratif berkata, “Ikuti kata hati.” Memang, dengan mengikuti kata hati, kebenaran akan terlihat. Namun, ada saatnya kita sebaiknya mengabaikan kata hati. Pertanyaannya, kenapa kita mengabaikan kata hati? Bukankah kata hati itu berkata benar?

Memang benar, kata hati mengatakan hal benar. Namun, ada saatnya dimana kita samar mendengar kata hati. Yang ada, kita menganggap itu kata hati namun sebenarnya itu hanyalah obsesi belaka.

Tidak sedikit orang yang terjebak dalam hal ini. Dia berpikir kalau apa yang dia dengar adalah kata hati. Tapi sesungguhnya itu bukanlah kata hati.

Kapan kita mengabaikan kata hati? Yaitu di saat:

  • Stress.
  • Depresi.
  • Trauma.
  • Obsesi.

Bila kita berada dalam 4 kondisi tersebut, sebaiknya tenangkan pikiran terlebih dahulu, lalu mulai dengarkan kata hati.

1. Stress

Orang stress itu yang ada dalam pikiran banyak sekali. Entah apa yang dia pikirkan. Pikiran berkembang kemana-mana dan itu selalu berakhir dampak buruk. Pekerjaan belum siap, dia stress hingga akhirnya dia berpikir, “aku tidak bisa menyelesaikannya.”

Terus, ketika dia berpikir “aku tidak bisa menyelesaikannya” itu kata hati? Itu bukan kata hati. Itu adalah sebuah kata yang muncul akibat pikiran sedang kalut. Orang stress juga rentan terhadap cemas berlebihan. Sehingga pikiran tidak menentu.

2. Depresi

Banyak kasus orang yang ingin bunuh diri mengatakan itu adalah kata hati. Apakah benar demikian? Kata hati selalu mengatakan hal yang benar dan bunuh diri jelas bukan hal yang benar. Berarti dia tidak sedang mendengarkan kata hati namun pikiran negatif akibat depresi.

Depresi memang membuat kita tidak bisa berpikir positif. Yang ada hanyalah bayangan negatif. Banyak penyebab dari depresi ini. Apapun itu, ketika kita depresi, sebaiknya tenangkan pikiran terlebih dahulu. Karena di saat depresi, saat itulah kita rentan akan pikiran negatif.

3. Trauma

Misalnya nih, kita trauma ketinggian. Tiba-tiba kita diharusnya pergi ke tempat ketinggian, harus mendapatkan foto bagus di ketinggian. Terus kita dihadapi dua pilihan, Melewati jembatan atau menaiki helikopter. Karena kita takut ketinggian, kita menaiki helikopter. Kita berpikir itu adalah kata hati, padahal hatinya memberontak berkata sebaiknya melewati jembatan untuk mendapatkan foto yang baik.

Ketika kita mengalami trauma, kita cenderung untuk menghindari trauma tersebut. Di saat kita trauma, pikiran negatif menyelimuti kita. Bahkan, ada beberapa orangn tidak bisa berpikir lagi.

Ketika kita berada di situasi seperti ini, memang menenangkan pikiran adalah hal yang sulit bahkan mustahil. Maka tidak salah mendengarkan apa perkataan dari orang lain. Karena mereka masih bisa berpikir jernih, sedangkan kita tidak bisa.

4. Obsesi

Bedakan obsesi dengan kata hati. Kalau kita mendengarkan kata hati, iya kita menginginkan sesuatu misalnya. Namun bukan terlalu fokus akan hal tersebut sehingga mengabaikan segalanya. Bahkan kalau pun gagal, rasanya tidak begitu sakit karena ada pembelajaran yang diambil.

Namun obsesi tidak demikian. Obsesi membuat kita mampu mengorbankan segalanya. Bahkan terlalu mengorbankan, sampai diri sendiri pun dikorbankan. Dan ketika gagal, sakitnya itu amat teramat sakit.

Jadi, ketika kita terlintas pikiran sesuatu, suatu tindakan di masa depan. Sebaiknya mulai dulu merenungkan, apakah hal itu obsesi atau kata hati.

Kesimpulan

Kesimpulannya, kita mengabaikan kata hati ketika pikiran penuh dengan negatif. Karena sebenarnya, ketika pikiran negatif, suara hati samar terdengar. Maka tidak heran, banyak yang menyarankan ketika kita tidak bisa berpikir jernih, “Sebaiknya tenangkan dulu pikiran, lalu selesaikan masalah. Jangan menyelesaikan masalah ketika pikiran negatif.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *